Wednesday, April 25, 2012

Sistem Pengendalian Manajemen_Perencanaan Strategis



PERENCANAAN STRATEGIS 

Karakteristik dari Perencanaan Strategis
Manajer yang paling kompeten menghabiskan waktu yang cukup lama untuk memikirkan mengenai masa depan. Hasilnya mungkin berupa pemahaman informal mengenai arah masa depan yang akan diambil oleh entitas tersebut, atau mungkin juga berupa pernyataan formal yang berisi rencana spesifik mengenai bagaimana untuk sampai kea rah sana. Pernyataan formal dari rencana semacam itu disebut di sini sebagai rencana strategis, serta proses pembuatan dan revisi dari pernyataan ini disebut dengan perencanaan strategis (di tempat lain disebut dengan perencanaan dan pemrograman jangka panjang). Perencanaan strategis adalah proses memutuskan program-program yang akan dilaksanakan oleh organisasi dan perkiraan jumlah sumber daya yang akan dialokasikan ke setiap program selama beberapa tahun ke depan.

1.      Hubungan dengan formulasi strategi
Ditarik perbedaan antara dua proses manajemen, yaitu formulasi strategi dan perencanaan strategis. Karena “strategi” atau “strategis” digunakan dalam kedua istilah, maka ada kemungkinan timbul kebingungan. Perbedaannya adalah bahwa formulasi strategis merupakan proses untuk memutuskan strategi baru, sementara perencanaan strategis merupakan proses untuk memutuskan bagaimana mengimplementasikan strategi tersebut. Dalam proses formulasi strategi, manajemen menentukan cita-cita organisasi dan menciptakan strategi-strategi utama untuk mencapai cita-cita tersebut. Proses perencanaan strategis kemudian mengambil cita-cita dan strategi yang telah ditentukan tersebut dan mengembangkan program-program yang akan melaksanakan strategi dan mencapai cita-cita tersebut secara efisien dan efektif.

2.      Evolusi dari Perencanaan strategis
Lima puluh tahun yang lalu, proses perencanaan strategis di hampir semua organisasi adalah tidak sistematis. Jika manajemen memikirkan perencanaan jangka panjang, hal tersebut tidak dilakukan dengan cara yang terkoordinasi. Beberapa perusahaan memulai sistem perencanaan strategis formal di akhir tahun 1950-an, akan tetapi hampir semua usaha-usaha awal tersebut merupakan kegagalan, karena merupakan adaptasi minor dari sistem pembuatan anggaran yang ada. Data yang diperlukan jauh lebih terinci dari seharusnya; para staf dan bukannya manajemen lini yang melakukan hampir semua pekerjaan tersebut; dan para partisipan menghabiskan banyak waktu untuk mengisi formulir dan bukannya untuk memikirkan secara mendalam mengenai alternatif-alternatif dan memilih terbaik di antaranya. Dengan berjalannya waktu, manajemen mengambil pelajaran dari pengalaman mereka.
Saat ini banyak organisasi menghargai keunggulan dari pembuatan rencana untuk tiga atau lima tahun ke depan. Praktik menyatakan rencana tersebut dalam dokumen atau model formal adalah luas, tetapi bukan berarti diterima secara universal. Jumlah rincian umumnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan rencana strategis pada tahun 1950-an.
Contoh. Emerson Electric, perusahaan elektrikal dan elektronik senilai $ 16 miliar, mengikuti strategi kepemimpinan biaya (cost leadership strategy) dan melaporkan peningkatan yang terus-menerus dalam laba selama 43 tahun tanpa pernah terputus. Perusahaan menyatakan bahwa kesuksesannya yang luar biasa tersebut terletak pada proses perencanaannya. CEO perusahaan menghabiskan hampir 60 % waktunya untuk merencanakan pertemuan. Para kepala dari ke-65 divisi menyajikan rencana-rencana mereka kepada CEO tersebut. Pertemuan perencanaan berkisar pada pertanyaan-pertanyaan tajam mengenai asumsi-asumsi dan menggali pertanyaan atas opsi-opsi untuk mengurangi biaya. Dokumen perencanaan fokus pada empat ukuran kunci: arus kas bebas, tingkat pengembalian atas modal, persentase penjualan yang dihasilkan dari produk baru, dan margin laba.

3.      Manfaat dan Keterbatasan dari Perencanaan Strategis
Proses perencanaan strategis formal dapat memberikan kepada organisasi : (1) kerangka kerja untuk mengembangkan anggaran tahunan, (2) alat pengembangan manajemen, (3) mekanisme untuk memaksa manajemen agar memikirkan jangka panjang, dan (4) alat untuk menyejajarkan manajer dengan strategi jangka panjang perusahaan.
Kerangka Kerja untuk Pengembangan Anggaran
Suatu anggaran operasi memerlukan komitmen sumber daya untuk tahun mendatang. Oleh karena itu, adalah penting bahwa manajemen membuat komitmen sumber daya semacam itu dengan ide yang jelas mengenai ke mana arah organisasi untuk beberapa tahun ke depan. Suatu rencana strategis menyediakan kerangka kerja yang lebih luas tersebut. Dengan demikian, manfaat penting dari pembuatan suatu rencana strategis adalah bahwa rencana tersebut menfasilitasi formulasi dari anggaran yang efektif.
Alat Pengembangan Manajemen
Perencanaan strategis formal adalah alat pendidikan dan pelatihan manajemen yang unggul dalam memperlengkapi para manajer dengan suatu pemikiran mengenai strategi dan implementasinya. Tidak berlebihan jika dikatakan bhwa dalam perencanaan strategis formal, prose situ sendiri adalah jauh lebih penting dibandingkan dengan output dari proses tersebut, yang merupakan dokumen rencana.
Mekanisme untuk Memaksa manajemen memikirkan jangka panjang
Manajer cenderung untuk lebih khawatir mengenai masalah-masalah taktis dan pengelolaan urusan-urusan bisnis rutin saat ini dibandingkan mengenai penciptaan masa depan. Proses perencanaan strategis formal memaksa manajer untuk menyediakan waktu guna memikirkan masalah-masalah jangka panjang yang penting.

Alat untuk Menyejajarkan Manajer dengan Strategi korporat
Debat, diskusi, dan negosiasi yang terjadi selama proses perencanaan mengklarifikasi strategi korporat, menyatukan dan menyejajarkan manajer dengan strategi semacam itu, dan mengungkapkan implikasi dari strategi korporat bagi manajer individual. Seperti yang akan ditunjukkan, keputusan program dibuat pada satu waktu, dan rencana strategis menyatukannya. Pembuatan rencana strategis mungkin mengungkapkan bahwa keputusan-keputusan individual tidak menciptakan suatu keseluruhan yang memuaskan.  Contoh. Pada tahun 1996, Texaco produsen minyak dan gas yang besar dan rumit, memiliki anggaran pengeluaran modal dan eksplorasi sebesar $ 3,6 miliar. Beberapa dari proyeknya tahun 1996 meliputi “pengembangan proyek-proyek lepas pantai di Laut utara, Nigeria, Angola, Australia, dan Asia Tenggara. Perusahaan berusaha untuk terus meningkatkan produksi di zona netral antara lain Arab Saudi dan Kuwait. “Dengan tingkat risiko yang terkait dengan proyek-proyek yang berbeda dan jumlah sumber daya yang tersedia, perencanaan strategis merupakan suatu kebutuhan bagi Texaco dalam memilih di antara proyek-proyek. Dengan adanya serangan teroris pada tanggal 11 September 2001 di Amerika Serikat, perencanaan strategis untuk perusahaan-perusahaan Amerika mengambil dimensi tambahan, yaitu perencanaan bencana. Keputusan strategis yang dipengaruhi oleh perencanaan bencana meliputi disperse geografis dari staf dan sumber daya, rencana kontinjensi untuk kehilangan dari seluruh fungsi bisnis, dan tingkat pendanaan untuk dana pemulihan akibat bencana dari korporat.

B.     Menganalisis Program-program baru yang diusulkan
Ide-ide untuk program baru dapat berasal dari mana pun dalam organisasi: dari CEO, dari staf perencanaan kantor pusat, atau dari berbagai bagian organisasi yang beroperasi. Misalnya, dalam 3M Corporation, ide untuk notes “Post-It” berasal dari bawah organisasi, bukan merupakan inisiatif dari CEO. Organisasi riset dan pengembangan diharapkan menghasilkan ide-ide untuk produk atau proses baru, organisasi pemasaran diharapkan menghasilkan inovasi pemasaran, dan organisasi teknik produksi diharapkan menghasilkan peralatan dan metode produksi yang lebih baik.Usulan-usulan untuk program pada intinya bersifat reaktif atau proaktif, yaitu muncul sebagai reaksi terhadap ancaman yang dirasakan, seperti kabar burung mengenai pengenalan produk baru oleh pesaing, atau sebagai inisiatif untuk mengkapitalisasi suatu kesempatan.
Analisis Investasi Modal
Hampir semua usulan memerlukan modal baru yang signifikan. Teknik-teknik untuk menganalisis usulan investasi modal berusaha untuk menemukan (a) nilai sekarang bersih dari proyek tersebut, yaitu, kelebihan nilai sekarang dari estimasi arus kas masuk terhadap jumlah investai yang diperlukan, atau (b) tingkat pengembalian internal yang implisit dalam hubungan antara kas yang masuk dan keluar. Intinya adalah bahwa teknik-teknik ini digunakan hanya pada sekitar separuh situasi di mana secara konseptual, teknik-teknik ini dapat diterapkan. Paling tidak ada empat alasan untuk tidak menggunakan teknik nilai sekarang dalam menganalisis semua usulan.
1.       Usulan tersebut mungkin jelas menarik sehingga perhitungan dari nilai sekarang bersihnya tidak diperlukan. Mesin yang baru dikembangkan dan yang mengurangi biaya secara substansial sehingga akan memberikan pengembangan dalam satu tahun adalah salah-satu contohnya.
2.        Estimasi yang terlibat dalam usulan begitu tidak pasti sehingga membuat perhitungan nilai sekarang bersih dipercaya tidak sesuai dengan usahanya.
3.      Alasan untuk usulan tersebut adalah selain peningkatan dalam profitabilitas. Pendekatan nilai sekarang mengasumsikan bahwa “fungsi tujuan” adalah meningkatkan laba, tetapi banyak usulan investasi yang memperoleh persetujuan berdasarkan alasan bahwa usulan tersebut meningkatkan semangat karyawan, citra perusahaan, atau keselamatan kerja.
4.      Tidak ada alternative yang layak untuk diadopsi. Hukum lingkungan mungkin mengharuskan investasi dalam suatu program baru.
Di sini dijelaskan secara singkat beberapa pertimbangan yang berguna dalam mengimplementasikan sistem evaluasi pengeluaran modal.
Aturan-aturan.  Perusahaan umumnya mempublikasikan aturan dan prosedur untuk persetujuan usulan pengeluaran modal dengan berbagai besaran. Usulan pengeluaran yang kecil dapat disetujui di tingkat manajer pabrik, bergantung pada total jumlah yang telah ditentukan dalam satu tahun, dan usulan yang lebih besar akan diteruskan ke manajer unit bisnis, lalu ke CEO, dan, dalam kasus usulan yang sangat penting, ke dewan direksi.
Menghindari Manipulasi.  Para pengusul yang mengetahui bahwa proyek mereka dengan nilai sekarang bersih yang negative kemungkinan besar tidak akan disetujui, bisa saja “nekat” bahwa proyek tersebut harus diambil. Dalam beberapa kasus, mereka mungkin membuat usulan tersebut menjadi menarik dengan cara menyesuaikan estimasi awal, sehingga proyek tersebut memenuhi kriteria numerik-mungkin dengan membuat estimasi yang optimistis atas pendapatan penjualan atau dengan mengurangi penyisihan untuk kontijensi dalam beberapa elemen biaya. Salah-satu tugas yang paling sulit dari analisis proyek adalah untuk mendeteksi manipulasi semacam itu.
Model.  Selain model pembuatan anggaran modal yang mendasar, ada teknik-teknik spesialisasi, seperti analisis risiko, analisis sensitivitas, simulasi, perencanaan scenario, teori permainan, model penetapan harga opsi, analisis klaim kontinjen, dan analisis diagram pohon untuk pengambilan keputusan.

C.     Menganalisis Program-program yang sedang berjalan
Selain mengembangkan program-program baru, banyak perusahaan memiliki cara yang sistematis untuk menganalisis program-program yang sedang berjalan. Beberapa teknik analitis dapat membantu dalam proses ini. Bagian ini menggambarkan analisis rantai nilai dan pertimbangan biaya berdasarkan aktivitas.
1.      Analisis Rantai Nilai
Rantai nilai untuk perusahaan mana pun adalah sekelompok aktivitas yang menciptakan nilai dan saling berhubungan yang menjadi bagiannya, dari memperoleh bahan baku dasar untuk pemasok komponen sampai membuat produk akhir dan mengantarkannya ke pelanggan akhir. Dari perspektif perencanaan strategis, konsep rantai nilai menyoroti tiga bidang yang potensial berguna:
1.       Hubungan dengan pemasok
2.      Hubungan dengan pelanggan
3.      Hubungan proses di dalam rantai nilai dari perusahaan tersebut.
Hubungan dengan Pemasok
Hubungan dengan pelanggan sebaiknya dikelola sedemikian rupa sehingga baik perusahaan maupun pemasoknya sama-sama memperoleh manfaat. Mengambil keuntungan dari kesempatan semacam itu dapat secara dramatis mengurangi biaya, meningkatkan nilai, atau keduanya.
Contoh. Ketika pengantaran coklat dalam jumlah besar dimulai dalam bentuk cair dengan mobil tangki dan bukannya dalam bentuk batangan yang dicetak seberat 10 pon, suatu perusahaan coklat menghilangkan biaya untuk mencetak dan mengepak batangan-batangan coklat, sementara produsen coklat menghemat biaya untuk membongkar dan melelehkan.
Hubungan dengan Pelanggan
Hubungan dengan pelanggan juga dapat menjadi sama pentingnya seperti hubungan dengan pemasok. Ada banyak contoh mengenai hubungan yang saling menguntungkan antara perusahaan dengan pelanggannya.
Contoh. Beberapa produsen wadah telah membangun fasilitas produksi dekat dengan pabrik bir dan mengantarkan wadah melalui konveyor secara langsung ke lini perakitan pelanggan. Hal ini menghasilkan pengurangan biaya yang cukup signifikan, baik bagi produsen container maupun bagi pelanggan mereka melalui percepatan transportasi dari wadah kosong, yang dilakukan dalam jumlah besar dan berat.
Hubungan Proses dengan Rantai Nilai dari Perusahaan.
Analisis rantai nilai secara eksplisit mengakui fakta bahwa aktivitas nilai individual dalam perusahaan tidaklah independen tetapi saling bergantung. Contoh. Di McDonald’s, penentuan waktu dari kampanye promosi secara signifikan mempengaruhi utilisasi kapasitas produksi (aktivitas nilai yang lain). Aktivitas yang berhubungan ini harus dikoordinasikan untuk merealisasikan dampak penuh dari promosi.
Suatu perusahaan mungkin ingin menganalisis hubungan proses di dalam rantai nilai, mencari cara untuk meningkatkan efisiensinya. Tujuan keseluruhan dari analisis ini adalah untuk memindahkan bahan baku pertama dari pemasok, melalui produksi, dan ke pelanggan dengan biaya rendah, waktu terpendek, dan kualitas yang dapat diterima.
Efisiensi dari bagian desain rantai nilai dapat ditingkatkan dengan mengurangi jumlah komponen terpisah dan meningkatkan kemudahan untuk memproduksinya.
Contoh. Produsen VCR jepang mampu mengurangi harga dari $ 1.300 pada tahun 1977 menjadi $ 295 pada tahun 1984 dengan cara menekankan pada dampak dari langkah awal dalam rantai (desain produk) terhadap langkah selanjutnya (produksi) dengan cara mengurangi secara drastic jumlah komponen dalam VCR.

2.      Perhitungan biaya Berdasarkan Aktivitas
Meningkatnya komputerisasi dan otorisasi di pabrik-pabrik telah mengarah pada perubahan-perubahan penting dalam sistem untuk mengumpulkan dan menggunakan informasi biaya. Enam puluh tahun yang lalu, hampir semua perusahaan mengalokasikan biaya overhead ke produk melalui tarif overhead tingkat pabrik yang didasarkan pada jam atau dolar tenaga kerja langsung. Sekarang, semakin banyak perusahaan mengumpulkan biaya yang terkait dengan bahan baku (misalnya transportasi dan penyimpanan) secara terpisah dari biaya produksi lainnya; dan mengumpulkan biaya produksi untuk departemen individual, mesin individual, atau “sel” individual, yang terdiri dari sekelompok mesin yang melakukan serangkaian operasi terkait atas suatu produk. Dalam pusat-pusat biaya ini, biaya tenaga kerja langsung mungkin digabungkan dengan biaya-biaya lain, sehingga menjadi biaya konversi-yaitu, biaya tenaga kerja dan biaya overhead untuk mengoversi bahan baku dan  komponen menjadi barang jadi. Selain biaya koversi, sistem yang lebih baru ini juga membebankan biaya R&D, biaya umum dan administratif, serta biaya pemasaran ke produk. Sistem yang lebih baru ini juga menggunakan dasar alokasi yang lebih dari satu. Dalam sistem yang lebih baru ini, kata aktivitas seringkali digunakan dibandingkan dengan kata pusat biaya, dan pemicu biaya lebih sering digunakan dibandingkan dengan kata dasar alokasi; dan sistem biaya ini disebut dengan sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas (activity-based cost-ABC).

D.    Proses Perencanaan Strategis
Dalam suatu perusahaan yang beroperasi sesuai dengan tahun kalender, proses perencanaan strategis dimulai pada musim semi dan diselesaikan pada musim gugur, tepat sebelum pembuatan anggaran tahunan. Proses tersebut melibatkan langkah-langkah berikut ini :
1.       Meninjau dan memperbaharui rencana strategis dari tahun lalu
2.      Memutuskan asumsi dan pedoman
3.      Iterasi pertama dari rencana strategis baru
4.      Analisis
5.      Iterasi kedua dari rencana strategis baru
6.      Meninjau dan Menyetujui
1.      Meninjau dan memperbaharui rencana strategis dari tahun lalu
Selama satu tahun, keputusan yang mengubah rencana strategis dibuat; manajemen membuat keputusan kapan pun ada kebutuhan akan hal itu, dan bukan sebagai respons terhadap terhadap jadwal yang telah ditentukan. Secara konseptual, implikasi dari setiap keputusan untuk lima tahun ke depan sebaiknya dimasukkan dalam rencana strategis segera setelah keputusan tersebut dibuat.  Jika tidak, rencana formal tersebut tidak lagi mencerminkan jalan yang direncanakan akan diikuti oleh perusahaan. Khususnya, rencana tersebut tidak mencerminkan dasar yang berlaku untuk menguji usulan strategi dan program yang merupakan salah-satu nilai utama rencana itu.
2.       Memutuskan asumsi dan pedoman
Rencana strategis yang telah diperbaharui memasukkan asumsi-asumsi luas seperti pertumbuhan dalam Produk Domestik Bruto (PDB), pergerakan musiman, tarif upah, tenaga kerja, harga-harga dari bahan baku penting, tingkat bunga, harga jual, kondisi pasar seperti tindakan pesaing, dan dampak dari undang-undang pemerintah di setiap Negara di mana perusahaan beroperasi. Asumsi-asumsi ini diperiksa kembali dan jika diperlukan diubah untuk memasukkan informasi paling akhir.
3.       Iterasi Pertama dari Rencana Strategis
Menggunakan asumsi, tujuan dan pedoman tersebut, unit bisnis dan unit operasi lainnya membuat rangcangan pertama dari rencana strategis, yang mungkin memasukkan rencana operasi yang berbeda dari yang dimasukkan dalam rencana sekarang, seperti perubahan dalam taktik pemasaran; dengan didukung alasan. Staf unit bisnis melakukan banyak pekerjaan analitis, tetapi manajer unit bisnis membuat keputusan akhir. Bergantung pada hubungan pribadi, karyawan unit bisnis dapat mencari saran dari staf kantor pusat dalam pengembangan rencana-rencana ini. Anggota dari staf kantor pusat sering kali mengunjungi unit bisnis selama proses ini dengan tujuan untuk mengklarifikasi pedoman, asumsi, dan instruksi, serta secara umum, untuk membantu dalam proses perencanaan
4.      Analisis
Ketika kantor pusat menerima rencana unit bisnis, kantor pusat mengagregasikannya menjadi satu rencana strategis korporat secara keseluruhan, Staf perencanaan dan pemasaran, produksi dan eksektif fungsional lainnya di kantor pusat menganalisis rencana ini secara mendalam. Unit bisnis X merencanakan taktik pemasaran baru; apakah mungkin bagi bahwa penjualan yang dihasilkan akan sebesar seperti yang diindikasikan pada rencana tersebut?
5.      Iterasi Kedua dari Rencana Strategis
Analisis dari penyerahan pertama mungkin memerlukan revisi rencana dari beberapa unit bisnis saja, tetapi dapat juga mengarah pada perubahan dalam asumsi dan pedoman yang mempengaruhi semua unit bisnis. Misalnya, agregasi dari semua rencana mungkin mengindikasikan bahwa penurunan kas akibat peningkatan persediaan dan pengeluaran modal lebih besar daripada yang dapat ditoleransi perusahaan dengan aman; jika demikian, mungkin ada kebutuhan untuk menunda pengeluaran di seluruh organisasi. Keputusan ini mengarah pada revisi dari rencana.
6.       Tinjauan dan Persetujuan Akhir
Suatu pertemuan dengan pejabat-pejabat senior korporat umumnya mendiskusikan rencana yang direvisi secara panjang lebar. Rencana tersebut juga mungkin dipresentasikan pada suatu pertemuan dengan dewan direksi. CEO memberikan persetujuan akhir,. Persetujuan tersebut sebaiknya dilakukan sebelum awal dari proses pembuatan anggaran, karena rencana strategis merupakan input yang penting bagi prose situ.
Referensi :
¡  Robert N.Anthony Vijay Govindarajan.”Management Control System, penerbit Salemba Empat,2005.”
¡  Anthony, Robert N. The Management Control Function. Boston: Harvard Business School Press, 1989.
¡  Kaplan, Robert, dan David Norton. Balanced Scorecard. Boston: Harvard Business School Press, 1996.

Jawaban tugas Analisis Laporan Keuangan


1.       definisi pos luar biasa (extraordinary item ) ?
          Jawab : 
pos luar biasa adalah penghasilan ataupun kejadian transaksi yang secara jelas berbeda dari aktivitas normal perusahaan dan karenanya tidak diharapkan untuk sering   terjadi atau terjadi secara teratur.

Pos luar biasa harus diungkapkan secara terpisah dalam laporan laba rugi. Suatu  transaksi secara jelas berbeda dengan aktivitas normal suatu perusahaan dapat digolongkan ke dalam pos luar biasa. Suatu transaksi atau kejadian mungkin luar biasa bagi suatu perusahaan, namun tidak luar biasa bagi perusahaan lain. Hal ini disebabkan oleh perbedaan-perbedaan aktivitas normal masing-masing perusahaan.

2.       Kriteria suatu pos itu dikatakan luar biasa ?
          Jawab : 
Dalam IAI (2002, PSAK No. 25, par.12) dinyatakan bahwa:
Suatu kejadian atau transaksi dapat diklasifikasikan sebagai pos luar biasa jika memenuhi dua kriteria berikut:
 a. Bersifat tidak normal.
Kejadian atau transaksi yang bersangkutan memiliki tingkat abnormalitas yang tinggi dan tidak mempunyai hubungan dengan kegiatan normal perusahaan.
b. Tidak sering terjadi
Kejadian atau transaksi yang bersangkutan tidak sering terjadi dalam kegiatan normal  perusahaan.

Teori Akuntansi_Pendekatan positif, Perataan Laba, dan Manajemen Laba


PENDEKATAN POSITIF, PERATAAN LABA , DAN MANAJEMEN LABA

13.1       PENDEKATAN LABA
13.1.1    Paradigma informasi / ekonomi
Paradigma informasi/ekonomi mengambil pandangannya melaui berbagai disiplin ilmu,termasuk teori keputusan, teori permainan, teori informasi dan ekonomi. Beberapa dari model analitis yang diusulkan memasukkan model teori keputusan, model teori sindikat, model evaluasi informasi pengambil keputusan, model teori tim, dan model pengumuman permintaan.

13.1.2    Paradigma agensi – analitis
Awal dari paradigma agensi analitis mengacu pada contoh yang disajikan dalam makalah seminar Coase, di mana ia pertama kali disebut sebagai hakekat perusahaan dan gabungan antara principal dan agen. Coase juga memberikan penekanan pada kontrak sukarela yang muncul antara berbagai pihak organisasi sebagai penyelesaian yang efisien terhadap berbagai konflik kepentingan. Paradigma ini kemudian mengalami perubahan dengan memandang perusahaan sebagai suatu “nexus (penghubungan) kontrak” dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Jensen dan Meckling bahwa perusahaan adalah “cerita fiksi legal yang berfungsi sebagai nexus dari serangkaian hubungan kontrak antara para individu.”
13.1.3    Teori akuntansi positif
Tujuan utama pendekatan akuntansi positif adalah untuk menjelaskan, memprediksi pilihan standar oleh manajemen dengan mengalisis biaya dan manfaat ungkapan keuangan tertentu dalam hubungannya dengan berbagai individu dan alokasi sumber daya dalam perekonomian. Teori positif didasarkan pada proposisi bahwa manajer, pemegang saham, dan regulator/politisi adalah rasional dan mereka berusaha untuk memaksimumkan utilitas mereka, yang secara langsung terkait dengan kompensasi mereka, sehingga, terkait dengan kemakmuran mereka. Pilihan kebijakan akuntansi oleh kelompok‑kelompok ini didasarkan pada perbandingan biaya dan manfaat relatif prosedur akuntansi altematif dalam suatu cara yang memaksimumkan utilitas mereka.

13.1.4    Evaluasi pendekatan positif
Pendekatan positif melihat pada “mengapa” praktik dan/atau teori dikembangkan dengan cara tertentu dalam rangka untuk menjelaskan memprediksi peristiwa akuntansi. Dengan cara seperti itu, pendekatan positif berusaha untuk menentukan berbagai faktor yang mungkin mempengaruhi faktor‑faktor rasional dalam bidang akuntansi.
Secara mendasar pendekatan tersebut berusaha untuk menentukan sebuah teori yang menjelaskan fenomena observasian. Pendekatan positif secara umum dibedakan dari pendekatan normatif, yang berusaha untuk menentukan sebuah teori yang menjelaskan “apa yang seharusnya” dan bukan “apa yang sesungguhnya”.

13.2       HIPOTESIS PERATAAN LABA
13.2.1    Hakikat perataan laba
Gordon menteorikan perataan income sebagai berikut:
- Dalil 1 : Kriterium yang digunakan oleh manajemen perusahaan dalam memilih di antara prinsip akuntansi adalah maksimisasi utilitas atau kemakmurannya.
-   Dalil 2 : Utilitas sebuah manajemen meningkat bersama dengan (1) keamanan kerjanya, (2) tingkat income dan tingkat pertumbuhan income manajemen, dan (3) besarya perusahaan dan tingkat pertumbuhan besamya perusahaan.
-  Dalil 3 : pencapaian tujuan manajemen yang dinyatakan dalam Proposisi 2 tergantung sebagian pada kepuasan pemegang saham terhadap kinerja perusahaan; yaitu, jika hal‑hal lain sama, semakin bahagia pemegang saham, semakin tinggi keamanan, income, dan sebagainya, dari manajemen
Dalil 4 : kepuasan pemegang saham terhadap sebuah perusahaan meningkat bersama dengan rata‑rata tingkat pertumbuhan dalam income perusahaan (atau ratarata tingkat return atas modaInya) dan stabilitas income‑nya. Proposisi ini siap untuk diverifikasi sebagaimana Proposisi 2.

13.2.2    Motivasi perataan
Beidelman mempertimbangkan dua alasan bagi manajemen untuk meratakan eamings yang dilaporkan yaitu:
-          Argumen pertama didasarkan pada asumsi bahwa sebuah arus eamings yang stabil merupakan pendukung yang kapabel bagi sebuah tingkat dividen yang lebih tinggi daripada sebuah arus eamings yang lebih variabel, memiliki sebuah pengaruh menguntungkan terhadap nilai saham perusahaan karena turunnya risiko total perusahaan.

Dia menyatakan: “Sampai tingkat di mana variabilitas yang diobservasi tentang sebuah tren eamings yang dilaporkan mempengaruhi ekspektasi subjektif investor atas hasil dari eamings dan dividen yang mungkin di masa depan, manajemen dapat mempengaruhi secara menguntungkan nilai saham perusahaan dengan meratakan eamings”.

-          Argumen kedua untuk perataan adalah kemampuan untuk mengatasi sifat siklis eamings yang dilaporkan dan mengurangi korelasi retum ekspektasian perusahaan dengan retum portofolio pasar.

Dia menyatakan: “Sampai tingkat di mana auto‑normalisasi eamings berhasil, dan bahwa pengurangan kovariansi retum dengan pasar diakui oleh investor dan dimasukkan dalam proses evaluasi mereka perataan akan menambah pengaruh yang bermanfaat pada nilai saham”.

13.2.3    Objek Perataan
Pada dasarnya objek perataan seharusnya didasarkan pada indikasi keuangan yang paling mungkin dan paling digunakan, yaitu laba. Karena perataan laba bukanlah suatu fenomena yang terlihat, literatur memperkirakan berbagai bentuk pernyataan keuntungan sebagai objek perataan yang paling memungkinkan.
Para peneliti memilih indikator laba bersih atau laba per saham sebagai objek perataan karena keyakinan bahwa perhatian jangka panjang manajemen adalah terhadap laba bersih dan para pengguna laporan keuangan biasanya melihat pada angka paling akhir, baik laba maupun laba per saham.

13.2.4    Dimensi perataan
Dimensi‑dimensi perataan pada dasarnya merupakan cara untuk mencapai perataan angka income. Dascher dan Malcolm membedakan antara perataan riil dan perataan artifisial sebagai berikut: Perataan riil menunjuk pada transaksi aktual yang dilakukan atau tidak dilakukan atas dasar pengaruh perataannya terhadap income, sedangkan perataan artifisial menunjuk pada prosedur akuntansi yang diimplementasikan untuk memindahkan kos dan/atau revenue dari satu periode ke periode yang lain.
Di samping perataan riil dan artifisial, ada dimensi lain perataan yang dibahas dalam literatur. Sebuah klasifikasi yang populer menambah dimensi perataan yang ke tiga, disebut, perataan klasifikatori.

13.2.5    Variabel Perataan
Alat atau instrumen perataan adalah variabel-variabel yang digunakan untuk meratakan indikator kinerja yang dipilih. Copeland menguraikan lima kondisi yang diperlukan untuk suatu instrumen pertaan sebagai berikut:
1)             Sekali digunakan, instrumen tersebut tidak harus membuat perusahaan memiliki komitmen untuk melakukan tindkaan tertentu apa pun di masa depan.
2)             Intrumen perataan harus didasarkan pada penerapan pertimbangan profesional dan diperkirakan dalam wilayah “Prinsip-Prinsip Akuntansi Yang Berlaku Umum”
3)             Instrumen perataan harus mengarah pada pergerakan yang material secara relatif terhadap perbedaan pendapatan dari tahun ke tahun.
4)             Instrumen perataan tidak memerlukan suatu transaksi riil dengan pihak kedua, tetapi hanya suatu reklasifikasi atau saldo akun internal.
5)             Instrumen perataan harus digunakan, secara sendirian atau bersama-sama dengan praktik lainnya, selama suatu periode waktu tertentu.

13.3       MANAJEMEN LABA
13.3.1    Manajemen laba sebagai manajemen akrual
Pada dasarnya, definisi operasional dari manajemen laba adalah potensi penggunaan manajemen akrual dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi. Hubungan berikut ini adalah hal yang sangat penting untuk dapat memahami manajemen laba sebagai manajemen akrual.

13.3.3    Kesalahan penetapan harga atau akrual pilihan
Persistensi kinerja laba ternyata bergantung pada besaran relatif dari kas dan komponen akrual dari laba. Akan tetapi, harga saham bertindak seakan-akan para investor gagal dalam mengidentifikasi secara benar sifat-sifat yang berbeda dari dua komponen laba. Pasar dengan salah menilai terlalu tinggi penentuan komponen arus kas dari akrual laba sekaligus pula menilai terlalu rendah persistensi dari komponen arus kas. Akrual juga menunjukkan serangkaian hubungan negatif atau kecenderungan reversi rata-rata. Hasil akhirnya adalah bahwa pasar merespon seakan-akan terkejut pada saat pembalikan laba yang sepertinya dapat diramalkan terjadi di tahun berikutnya.



13.3.4    Isu-isu dalam manajemen laba         
1)             Adalah sangat mudah untuk menduga bahwa manajemen laba bertujuan untuk memenuhi harapan dari analisis keuangan atau manajemen (yang diwakili oleh peramalan laba oleh publik).
2)             Terdapat alasan yang baik untuk memiliki kecurigaan bahwa manajemen laba bertujuan untuk memengaruhi kinerja harga jangka pendek dengan berbagai cara.
3)             Manajemen laba berakhir dan dapat bertahan karena informasi yang simetris, suatu kondisi yang disebabkan oleh informasi yang diketahui manajemen namun tidak ingin mereka ungkapkan.
4)             Manajemen laba terjadi dalam konteks suatu kumpulan pelaporan yang fleksibel dan seperangkat kontrak tertentu yang menentukan pembagian aturan di antara pemegang kepentingan.
5)             Permainan laba, atau lebih tepat sebagai permainan laporan laba triwulanan, mungkin menjadi alasan utama dalam manajemen laba.
6)             Manajemen laba merupakan suatu hasil usaha untuk melewati ambang batas.
7)             Manajemen laba dapat berasal dari hasil pemenuhan perjanjian dari kontrak kompensasi implisit.
8)             Manajemen laba tumbuh dari ancaman dua bentuk aturan: aturan industri yang spesifik dan aturan antitrust.
9)             Penilaian perusahaan secara umum diasumsikan menjadi salah satu sasaran manajemen laba.
10)         Laba negatif secara tibak-tiba umumnya lebih merugikan daripada revisi ramalan negatif.

13.4       STATUS AKUNTANSI YANG BERSIFAT PARADIGMA
13.4.1    Evolusi atau revolusi di dalam akuntansi?
Berbagai pendekatan digunakan untuk memformulasi sebuah teori akuntansi. Berdasarkan kelebihan dan kelemahan masing‑masing pendekatan, kita dapat mengharapkan bahwa situasi tersebut akan membawa pada sebuah perdebatan yang bermanfaat dan sebuah teori akuntansi yang terpadu. Pandangan ini mungkin akan dilajuntukan oleh semua orang yang percaya bahwa kemajuan dalam akuntansi akan terjadi melalui akumulasi gagasan‑gagasan atau evolusi. Pandangan seperti itu mensyaratkan penerimaan sebagian besar pendekatan yang diusulkan sebagai penyumbang potensial bagi sebuah teori akuntansi yang final, terpadu, atau komprehensif.         

Namun begitu, pandangan yang kuat dan lebih logis, adalah bahwa akuntansi, seperti sebagian besar ilmu sosial dan ilmu alami, mencapai kemajuan melalui revolusi bukan evolusi. Gagasan tentang revolusi dalam akuntansi diambil dari karya Kuhn "The Structure of Scientific Revolutions dan diusulkan, secara berhasil, dalam Statament of Accounting Theory and Theory Acceptance (SATTA) yang diterbitkan oleh American Accounting Association (AAA).

13.4.2    Akuntansi: suatu ilmu yang multiparadigma
Jika akuntansi berada dalam tahap krisis, maka menjadi mungkin untuk mengidentifikasi berbagai paradigma yang sating bersaing. Dengan kata lain, akuntansi adalah sebuah sains multiparadigmatik, yang masing‑masing saling bersaing untuk menguasai disiplin akuntansi. Mengikuti definisi Ritzer tentang paradigma, masing‑masing paradigma akuntansi yang ada akan berisi contoh, teori, dan metodenya sendiri. Secara lebih spesifik, “masing‑masing paradigma akuntansi yang saling bersaing saat ini cenderung untuk menspesifikasi domain empiris di mana sebuah teori akuntansi harus berada”.

Pertanyaan :
1.             Mengapa perlu ada evaluasi pada pendekatan positif? Jelaskan !
2.             Mengapa pada dasarnya objek perataan itu didasarkan pada indikasi yang paling mungkin dan paling digunakan, yaitu laba ?